Jumat, 23 Maret 2012

Surat dari anak yang di aborsi


Asalamualaikum wr wb ..

Teruntuk bunda ku dayang ,
Dear bundaa ...

Bagaimana kabar bunda hari ini ? semoba baik2 saja .
nanda juga disini baik2 saja bunda , allah sayang bgt deh sama nanda , allah juga menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda , sebagai bukti cinta nanda sama bunda ..

 bunda , ingin sekali nanda menyapa perempuan yg telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walau sesaat .
bunda , sebenarnya nanda ingin lebih lama tggal dirahim bunda , yg kata allah ruang yg paling kokoh dan paling aman d dunia ini ..
tapi rupanya bunda tdak menginginkan kehadiran nanda jadi sebagai anak yang baik , nanda pun rella menukar kehidupan nanda demi kebahagiaan bunda ,
walaupun dlu waktu bunda meluruhkan nanda sakit bgt bunda , badan nanda rasanya tercabik2 dan keluar seperti gumpalan darah yg menjijikan.. :(
apalagi hati nanda , nyeriiiii , merasa aib yg tdak d hargai dan tdak dinginkan,
tapi nanda tdak kecewa qo bunda .. karena dngan begtu , bunda telah mengantarkan nanda untk bertemu dan d jaga allah , bahkan d rawat dgan penuh kasih syg d dalam syurga . . .

 bunda , nanda mau cerita , dlu nanda pernah nangis dan bertanya sama allah .
mengapa bunda meluruhkan nanda saat nanda msh berupa wujud yg belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian dsni ???
apa bunda tdk syg sama nanda ???
apa bunda tdk ingn mncium nanda ???
atau jgn2 takut nanda ngmpoll ???
lalu allah bilang , bunda kamu malu syg ..
kenapa bunda malu ???
krna dia takut kamu dlahirkan sbagai anak haram  .
anak haram itu apa ya allah ???
anak haram itu anak yg dilahirkan tanpa ayah ..
nanda bngung dan brtanya lagi sama allah , ya allah bukannya setiap anak itu punya ayah dan ibu ??
allah yg maha mengetahui menjawab bahwa ayah dan bunda memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang syah , dan allah ridhoii , nanda semakin bngung dan ahirnya nanda diam ..

bunda , nanda malu terus2an nanya sama allah ,, :(
walaupun dia selalu mnjawab semua pertanyaan nanda tapi nanda mau nanya sama bunda aja ah :)
pernikahan itu apa bunda ?
kenapa bunda tdak menikah dngan ayah ? knp bunda mmbuat nanda jadi anak haram dan mengusir nanda dari rahim bunda dan mmberi kesempatan sesaat untuk nanda diami dan berbakti kpda bunda ??
hehe maap ya bunda nanda bawel bgt :)
nanti saja bunda tanyakan kalau kita ktmu ,
oh iya bunda , suatu hari nanda d ajak malaikat ketempat yg katanya bernama neraka ,
tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh brbeda dgan tempat yg nanda diami skrng .
dstu bnyak yg dbakar pake api loh bunda , mnumnya juga pake nanah dan buah2an yg aneh dan byk durinya ..
yg paling parah ada perempuan yg d tusuk kaya sate, iiiihh serem bgt bunda :(
lagi ngeri2nya tiba2 malaikat blg sama nanda : nak kalau bunda dan ayah mu tidak bertaubat kelak dstulah tmpatnya , dstulah tmpat org yg berzina akan tinggal dan d siksa slamanya ,
seketika itu nanda menangis dan berteriak2 memohon agar bunda dan ayah tidak dmasukan kstuh ..

bunda , nanda ingn mrasakan lembutnya belaian tangan bunda dan ingn kita tnggal d surga ..
nanda takut bunda dan ayah kesakitan seperti org2 itu ,

lalu dgan lembut malaikat berkata "nak kata allah kalau kamu syg dn ingin bertemu ayah bundamu tggal d surga bersamamu , tulislah surat untuk mreka , sampaikan berita baik bahwa nanda tggal d surga dan ingn tggal bsama mreka" ..
ajaklah mreka bertaubat dan sampaikan jga kabar buruk bhwa jika mreka tdak bertaubat mereka akan d siksa d neraka seperti org itu ..

saat nanda mendengar berita itu , lalu nanda segera menulis surat ini utk bunda , menurut nanda allah itu baik bgtt bunda , allah akan memaafkan kesalahan makhluknya asal mreka mau bertaubatan nasuha..
bunda taubat ya ? ajak ayah juga :) nanti kita bisa kumpul bareng dsini ..
nnti nanda jmput bunda dan ayah d padang mahsyar , nnti nanda janji deh bawa minuman dan payung buat bunda dan ayah ,, soalnya  kata allah dsana panas bgt bunda . . .
antriannya jga pnjang bgt , semua org sejak jaman nabi adam kumpul dstu , tapi bunda jgn khawatir :) allah janji wlwpun rame kalau bunda dan ayah bener2 bertaubat dan ayah jd org baik ,
nanda bisa ktmu kalian :)
bunda , ksh kesempatan buat nanda ya , biar nanda bsa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kpda org tua ,
nanda jga mohon bgt sama bunda , jga adik2 nanda , jgn sampai mengalami nasib yg sama seperti nanda , :(
biarlah nanda saja yg merasakan sakitnya ketersia2an it . tolong ya bunda , ksh adik2 kesempatan untuk hidup d dunia menemani dan merawat bunda saat bunda tua kelak ,,


sudah dlu ya bunda , nanda mau main2 dlu d syurga , nanda tggu kehadiran ayah dan bunda d sini ..


nanda syang bgt sama bunda :*
muaaaaah :*


Selasa, 20 Maret 2012

Ketulusan



Ketulusan
1322254645598780801
Sengaja saya ceritakan ini kepada pembaca kompasiana, dengan harapan saya dapat meluapkan segala perasaan dan kegelisahan yang selama ini mengendap dalam perasaan dan batin saya bertahun-tahun.
Kisah ini dimulai delapan tahun silam, ketika saya masih duduk di bangku  kuliah salah satu perguruan tinggi di Kota Kupang-Nusa Tenggara Timur. Saat itu saya berkenalan dengan seorang gadis cantik dan lembut, namanya Amy.
Kami berbeda Fakultas waktu itu. Tanpa membutuhkan waktu dan proses yang panjang, saya kemudian menjalin cinta dengan Amy. Prejalanan kisah cinta kami hanya berlangsung selama tiga bulan.
Amy waktu itu tidak tahan dengan watak dan sikap saya yang tempramen dan badung. Maklumlah, semasa kuliah, terutama disemester 1-6, teman sepergaulan saya rata-rata anak-anak nakal dan pemabuk, alias suka minum-minuman keras dan berkelahi antar kampung.
Sebelum berpacaran dengan Amy, saya termasuk bagian dari mahasiswa-mahasiswa yang preman itu. Wajar saja, watak dan tempramen saya waktu itu terbilang cukup membuat Amy gerah dan mengambil sikap menjauhi saya.
Tapi, dalam kurun waktu tiga bulan itu, ternyata diam-diam saya menyimpan rasa cinta yang teramat dalam padanya. Bahkan saya bermimpi, suatu waktu kami bisa hidup bersama-sama sebagai suami istri.
Saya yang dididik oleh keluarga dengan keras dan bergaul dalam lingkungan yang nakal, ternyata diluluhkan, bahkan tenggelam dalam rasa cinta yang terlampau besar pada Amy. Susah payah saya berusahan untuk mempertahankan cinta kami, agar Amy tetap hidup bersama saya, namun di tengah usaha saya yang keras itu, tidak sanggup membuat Amy tetap bertahan dengan hubungan cinta kami.
Saya sadar waktu itu, bahwa cara saya untuk mempertahankan cinta kami terkadang terlalu ekstrem dan kasar. Bahkan terkadang nekat dan melukainya. Tapi bagi saya, itulah cara saya untuk mempertahankan Amy gadis yang sangat saya cintai.
Tapi semua itu tak sanggup membendung Amy untuk menjauhi saya. Di tengah besarnya cinta dan harapan untuk bisa hidup selamanya bersama Amy itu, akhirnya Amy memutuskan hubungan kami. Mesti saya keberatan untuk hal itu (putus).
Yang paling menyakitkan buat saya adalah, setelah hubungan kami berakhir, dia menjalin cinta dengan teman dekat saya sefakultas. Entahlan apa maksud Amy? Saya pun tidak mengerti.
Singkat cerita, meski dibalut rasa cinta yang dalam padanya, saya akhirnya ikhlas dan merelakan dia jatuh dalam dekapan cinta laki-laki lain. Dalam kegalauan itu, saya menemukan jalan hidup baru sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Saya pun memilih tinggal di kompleks masjid Raya Nurussadah Kupang-NTT bersama teman-teman HMI dan lebih sering menghabiskan waktu di masjid sepulang kuliah atau selesai beraktifitas di HMI.
Kehidupan lama yang penuh dengan ingar-bingar kekerasan dan alkohol mulai saya tinggalkan. Satu tahun aktif di HMI, membuat saya mulai bisa sedikit melupakan Amy. Tapi saya pun sulit melabuhkan cinta pada wanita lain. Karena hanya Amy yang ada di hati dan tersimpan rapi dalam lubuk cinta saya yang paling dalam.
Saya merasa tersumbatnya perasaan cinta pada wanita lain ini pun menjadi sebuah keberuntungan, agar saya benar-benar konsen menggeluti aktifitas perkaderan di HMI. Padahal, di HMI saya dekat dengan beberapa wanita yang manis dan cerdas, tapi semua itu tidak membekas di hati saya seperti Amy.
Selama 5-6 tahun saya bergelut dan berjibaku dengan aktifitas ke HMI an. Mondar-mandir ke Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia mengikuti kegiatan HMI. Dan diakhir dari masa aktif saya sebagai kader HMI, saya memutuskan untuk bekerja di Atambuah. Salah satu kabupaten provinisi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan negara Timur Leste (eks Timor-Timur).
Keberadaan saya di Atambua selama 4 tahun lebih, sebenarnya bentuk pelarian saya dari Kota Kupang. Kota yang telah menghancurkan bangunan perasaan cinta saya. Tapi di sana juga kota perjuangan dan kota yang telah meleburkan kerasnya hati saya dengan sentuhan kelembutan dan kasih sayang sosok Amy. Kota yang telah memberikan arti sebuah nilai dan eksistensi perjuangan selama berada di HMI.
Selama berada di Atambua, setiap sabtu sore saya selalu menyempatkan diri ke Kupang. Dalam rangka mengisi materi-materi perkaderan HMI. Intensitas saya ke Kupang itulah yang menyempatkan saya suatu waktu niat untuk bertandang ke rumah Amy.
Jujur, selama kami berpacaran, saya tidak pernah ke rumahnya. Namun kali ini, saya nekat saja. Sekedar mengetahui kabar Amy, karena selama 4 tahun lebih sejak kami putus dan sejak saya menetap di Atambua, kami tidak lagi bersua.
Singkat cerita, saya pun memberanikan diri ke rumah Amy. Malam itu kami bercerita tentang banyak hal. Dia pun berkisah tentang hubungannya dengan Al (teman saya) yang kandas di tengah jalan. Amy ditinggal nikah oleh Al.
Sejujurnya, mendengar kisah putusnya Ami dan Al malam itu, saya merasa punya kesempatan lagi. Maklum, rasa cinta saya padanya yang begitu besar dan masih tersimpan rapih. Bahkan malam itu saya sempat berjanji, kalau ia berkenan, saya masih mau menerimanya kembali dengan keadaan apapun.
Saya pun meminta Amy, kalau dia bisa sedikit sabar, saya akan mengumpulkan modal secukupnya untuk segerah melamarnya menjadi istri. Tapi dasar Amy, ia wanita yang susah di tebak. Dulu ketika kami masih pacaran pun begitu, saya sulit menerjemahkan seperti apa rasa cintanya pada saya. Malam itu Amy tidak memberikan kepastian apapun, ia hanya tersenyum datar dan berusaha mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
Malam itu, saya fikir Amy tidak serius menanggapi omongan dan permintaan saya. Akhirnya saya pun menganggap sedikitpun Amy tidak menyimpan perasaan cintanya pada saya. Sejak malam itu, saya pun tidak lagi bertemu Amy.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya dipertengahan tahun 2008, saya bertemu dengan seorang gadis Minangkabau (Sumatera Barat), dia teman saya di HMI. Kami bertemu di acara Intermediate Training HMI Cabang Kupang. Saat itu ia menjadi salah satu pembicara nasional dalam perhelatan training itu. Tidak begitu lama berkenalan, kami pun memutuskan untuk menikah.
Waktu itu, satu-satunya tujuan saya untuk menikah adalah ibadah. Tidak ada tendensi perasaan apapun. Dalam benak saya berfikir, cinta itu seiring waktu akan terbentuk juga. Akhirnya kami pun menikah dan menetap di Jakarta.
Saat ini, kami telah dikarunia seorang putra yang tampan dan cerdas. Buah cinta kami. Namanya Alif Facry Zafran Choiry. Saya juga suka menamakannya Muhammad Saves Morales Dinejad. Nama yang bagus, dan juga sebagi simbol perlawanan terhadap kemapanan. Kulitnya putih, tapi wajahnya Timur bangat. Begitu kata teman-teman saya.
Alhamdulillah dengan gaji 7,5 juta sebagai staf di salah satu lembaga tinggi negara, kami hidup bahagia dan pas-pasan. Saya pun bisa mewujudkan mimpi saya untuk melanjutkan studi program Pasca Sarjana di salah satu Universitas terkemuka di Jakarta. Kini saya duduk di semester dua (2).
Di tengah-tengah karunia Tuhan itu, suatu waktu, saya iseng-iseng membuka jejaring sosial (facebook) yang sudah hampir seminggu tidak diotak-atik, sontak saya terkejut, karena dalam kotak pesan saya ada sebuah pesan yang dikirim oleh seseorang yang bernama Mamy Camsol.
Dia hanya menulis singkat dalam inbox “saya ga bisa, berkata-kata lagi”. Sontak saya kaget dan bertanya, apakah ini Amy? Gadis yang hingga kini masih tersimpan di hati saya? Akhirnya untuk memastikan, saya pun menelpon Amy. Karena ia menggunakanfacebook dengan layanan hand phone sehingga nomor nya pun dengan mudah saya lacak.
Ternyata saya tidak salah, gadis yang mengirim pesan itu adalah Amy. Malam itu Amy bercerita tentang banyak hal. Ternyata selama ini Amy menunggu saya. Dia pegang benar kata-kata yang pernah saya ucapkan dimalam itu, bahwa saya akan datang melamarnya setelah mengumpulkan sedikit modal untuk menikah.
Bahkan ia pernah kabur dari rumah dan mencari saya di Atambua, tapi waktu itu saya sedang pulang kampung. Malam itu Amy menangis sebisanya. Ia menceritakan pada saya dimalam itu, bahwa hubungannya dengan Al teman saya itu putus di tengah jalan karena Al tau betul bahwa ia hanya mencintai saya.
Amy dengan bersumpah mengaku pada saya, Al hanyalah tempat pelarian, akibat ia tidak tahan dengan sikap dan watak saya yang suka mabuk dan berkelahi. Ia hanya tidak sanggup menerima setiap saat saya memperlakukannya dengan kasar dan dalam keadaan mabuk.
Dalam hatinyanya, ia sangat mencintai saya. Yang paling membuat saya terpukul adalah, saat ini Amy mulai merokok dan setiap malamnya menggunakan sabu-sabu. Ia tidak lagi solat lima waktu dan sekarang menetap di Jawa Timur.
Amy cerita pada saya, sudah dua orang yang melamarnya baik-baik, tapi ia menolaknya, karena hanya saya yang ada di hatinya seumur hidup. Kepergiannya ke tanah Jawa, hanyalah bentuk pelarian akibat rasa cintanya pada saya yang begitu besar. Ia tidak lagi sanggup menetap di Kupang akibat perilakunya yang semakin frustasi. Ia tidak ingin penilaian buruk orang-orang sekitar terhadap keluarga akibat perbuatannya yang kini menyimpang jauh dari agama.
Malam itu, Amy pun mengaku pada saya, bahwa ia pernah berhubungan dengan sesama jenis (lesbian). Semua itu dilakukannya akibat rasa frustasi yang dalam setelah saya pergi dan menghilang dari kehidupannya.
Pembaca sekalin, sejujurnya saya ingin berkata, bahwa saat ini saya dalam kebimbangan yang besar. Menghadapi suatu situasi dilema, dimana orang yang pernah bahkan masih saya cintai itu kini berada dalam kehancuran hidup. Saya sulit memposisikan diri dalam kondisi yang sedemikian dilematis.
Sejujurnya saya ingin memperjuangkan kehidupan saya saat ini yang mulai terpupuk dengan nilai-nilai kebahagian dan romantisme dalam sebuah keluarga kecil. Tapi saya pun sulit membunuh nurani ini agar tidak berpihak pada kemanusiaan dan cinta yang universal itu. Saya bersedia mendengar siraman dan pecerahan dari sahabat kompasiana yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca kisah ini. 

Selasa, 13 Maret 2012

RINDUKU KENANGANKU


Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti.
               Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran.
               “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”
               Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.
             ***
Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat. 
Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.
               “Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?
               “Aku mencarimu! Kata Diana
               “Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”
               “Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.
               “Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal Diana
               Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas. 
* * *
               Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat.
* * *
               Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.
               “Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang
               “Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..
               Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.
               “Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_
               “Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)
               Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..
               “Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)
               “Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)
               “Aku sakit apa? Mana ayah?”
               “Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”
               “Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”
               “Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”
               “Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”
               “Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”
               “Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”
               “Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"
* * *
               Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.
               “Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran
               “Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”
               “Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran
               “Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”
               “Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”
               “Thengs.. siapa namamu?”
               “Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)
               Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.
               (Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.
               Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.
               “Diana, kenapa kamu?”
               “Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”
               “Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”
               “Ii..ia bu.”
               “Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’
               “Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”
               “Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari
               “Ibu mau menjenguknya? “
               “Iya,, nggak apa-apa kan?”
               “I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana
               Ibu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.
               Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.
Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.
               “Hai, belum pulang?" Sapa Diana
               “Hmmn. Belum Diana’
               “Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari
               “Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana
               “Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”
               “Ohh, namamu Lizy ya?”
               “Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”
               “Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”
               “Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy
               “Hhhhaha….” Sambung Diana
* * *
               Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.
               “Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy
               “Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.
               Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya
               “Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”
               “Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”
               “Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana
               “a..ku, sakit Leukimia..”
               Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..
               “Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”
               “Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva
               “Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari
               ( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.
               “Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”
               “Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.
               “Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari
               “walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”
               Suasana berubah menjadi hening kembali..
               “Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)
               “Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.
               Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.
               “Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang
               “Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”
               “ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”
               “Cepat sembuh, ya”……
* * *
Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.
Malam ku sepi..
Tak sanggup ku mengungkapkan
Air mata membendung di kelopak mataku..
Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum. 
Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…
Kamu_sahabat_Terbaikku

               Ia simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….

3 hari kemudian…

               Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.
               Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi.
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat duu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kitaberduka saat kita tertawa

               Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.
               “Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”
               “Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”
               “waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”
               “Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.
               “Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus Lintang
               Diana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.
               “Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana
               “Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang
               “Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana
               “Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”
               “Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy
               “Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva
               “Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha
               “hhuuhh…”
               Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.
* * *
               Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.
               Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya. 
               Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.
* * *
               Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.
               “Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)
               “Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana
               “Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas Lizy
               Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.
               Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.
* * *

“Tak sempat ku berikan
Tak sempat ku sampaikan”
_LiDiZyVa_

Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi.
Sahabatku impianku
Cita-citaku imajinasiku
Bukan hal yang salah memiliki mimpi
Bukan hal yang salah mempunyai tujuan
Tujuan seperti sinar
Kesana lah kita berlari
Dan untuk itulsh kita hidup
Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan
Membuat kita sulit melihat
Sehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhenti
Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri

               “Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya. 
               “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.
               Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.
               “Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai” 
               “Waahh..keren.!”
               Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.
SELESAI